Dongeng – Kimamanauze dan Putri Matahari

Dongeng dari Afrika.

Di sebuah desa bernama Tumbandala di Nigeria, hiduplah seorang pemuda bernama Kimamanauze. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya yang hidup sederhana. Kimamanauze adalah pemuda yang pantang menyerah. Jika punya keinginan maka harus didapatkannya.

Kini, saat usianya sudah cukup untuk menikah, kedua orang tuanya mulai mendesaknya untuk menentukan calon pendampingnya.

“Anakku, sekarang kamu sudah dewasa dan sudah saatnya kamu menikah. Pilihlah seorang wanita untuk jadi pendampingmu,” kata ayahnya suatu hari.

“Ayah, saya memang sudah berniat untuk menikah. Tapi saya tidak mau menikah dengan wanita sembarangan. Aku hanya mau menikah dengan Putri Matahari dari langit,” kata Kimamanauze mantap.

Meski harapannya tersebut dianggap mustahil dan mengada-ada, tapi Kimamanauze tetapa yakin bahwa suatu saat dia akan mendapatkan Putri Matahari dan menikahinya.

Setiap hari Kimamanauze memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan putri Matahari, namun tidak ada satu carapun yang melintas di kepalanya.

Suatu hari Kimamanauze membuat sepucuk surat yang ditujukan kepada dewi Matahari. Lalu dia membawa surat tersebut ke sebuah hutan.

Di tengah jalan, dia bertemu dengan seekor kijang gunung dan Kimamanauze menyapanya:
“Wahai kijang gunung yang baik, maukah kau menolongku? Maukah kau membawa surat ini kepada dewi Matahari di langit?” tanya Kimamanauze.

“Oh, aku memang bisa naik ke puncak gunung yang tinggi, tapi langit terlalu tinggi, aku tidak sanggup!” kata kijang gunung.

Maka Kimamanauze pun meninggalkan kijang gunung dengan kecewa.

Menjelang sore dia bertemu dengan seekor burung elang yang sedang bertengger di atas pohon.
“Wahai burung yang baik maukah kau membawa suratku kepada dewi Matahari di langit?” tanya Kimamanauze.
“Anak muda, aku memang bisa terbang hingga ke awan, tapi meski aku terbang hingga sayapku rontok, aku pasti tidak akan sampai ke langit! Maafkan aku!” kata si burung elang.

Kimamanauze sangat kecewa dan memutuskan untuk pulang ke rumah saja, tapi berjanji untuk melanjutkan usahanya besok.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Seekor katak, melompat ke dalam rumah ketika Kimamanauze membuka pintu.

“Anak muda, aku dengar kau sedang bingung mencari cara menyampaikan surat untuk dewi Matahari. Bagaimana kalau aku yang mengantarkannya?” tanya katak tersebut.

Kimamanauze merasa katak itu sedang mengoloknya, maka dia pun mengusirnya. Namun katak itu tidak mau pergi.

“Bagaimana mungkin seekor katak bisa pergi ke langit? Sedangkan kijang gunung dan burung elang yang bisa sampai di tempat tinggi pun tidak sanggup,” kata Kimamanauze.
“Aku tidak pernah berdusta anak muda! Kalau aku katakan sanggup menyampaikan suratmu kepada dewi Matahari, maka pasti aku bisa! Nah berikan saja suratmu dan kau tunggulah hasilnya!” kata katak sungguh-sungguh.

Meski masih ragu namun akhirnya Kimamanauze menyerahkan surat tersebut.

Katak membawa surat tersebut ke pinggir telaga tempat dayang-dayang dari langit mengambil air. Saat matahari memancarkan sinarnya di atas telaga, para dayang turun dari langit dengan membawa guci-guci. Dan begitu mereka mencelupkan gucinya, katak melompat ke dalamnya. Setelah semua guci penuh, para dayang kembali ke langit dan tentu saja katak pun ikut bersama mereka.

Di ruangan tempat menyimpan guci-guci berisi air, katak mengamati sekelilingnya. Dilihatnya sebuah meja di tengah ruangan. Katak meletakan surat Kimamanauze di sana lalu dia kembali bersembunyi.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar itu terbuka dan ruangan pun diterangi sinar yang hangat. Ternyata yang datang adalah dewi Matahari yang hendak memeriksa guci-guci air. Tiba-tiba dilihatnya sepucuk surat di atas meja. Dengan keheranan dewi matahari membuka dan membacanya:

Dewi Matahari yang terhormat,
Perkenalkan saya Kimamanauze dari desa Tumbandala di bumi.
Bersama ini saya ingin mengajukan lamaran buat puteri anda.
Saya mohon kiranya anda bisa menerima lamaran ini.
Terima kasih.

Dewi Matahari memanggil para dayang pengambil air dan menanyakan siapa pembawa surat itu,. namun tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Dewi Matahari memutuskan untuk membalas surat itu dan meletakannya kembali di atas meja. Maka dia pun menulis:

Tuan Kimamanauze di bumi,
Kami sudah menerima surat lamaran anda. Tapi kami belum mengenal anda,
jadi bagaimana kami bisa mengambil keputusan.
Alangkah lebih baiknya jika anda bisa datang ke langit dan mengirimkan mas kawinnya.
Salam
Dewi Matahari.

Setelah dewi Matahari pergi, katak mengambil surat tersebut dan kembali bersembunyi di dalam guci yang kosong yang akan dibawa turun ke bumi oleh para dayang.

Katak membawa surat itu kepada Kimamanauze yang menerimanya dengan gembira. Dia lalu membungkus uang tabungannya, menyerahkannya pada katak bersama sepucuk surat lagi.

Demikianlah katak kembali ke langit dan meletakan uang serta surat kimamanauze di meja yang sama.

Dewi Matahari yang membaca surat tersebut, memanggil suaminya dewa Bulan dan menceritakan masalah tersebut. Mereka berdua sepakat untuk menerima lamaran tersebut dan meminta Kimamanauze untuk menjemput puteri Matahari di langit.

Kimamanauze yang menerima kabar tersebut dari katak merasa bingung. Bagaimana dia bisa menjemput calon isterinya di langit? Namun katak yang cerdik berjanji akan membuat puteri Matahari sendiri yang turun ke bumi.

Keesokan harinya, katak kembali terbang ke langit. Kini dia bersembunyi di kamar puteri Matahari. Saat malam tiba dan puteri Matahari telah tertidur. Katak lalu mendekati sang puteri. Dengan hati-hati diambilnya hati sang puteri lalu dengan cepat katak kembali bersembunyi di pojok kamar.

Pagi harinya istana langit gempar karena puteri Matahari mendadak sakit keras. Tidak ada yang tahu apa penyakitnya. Seorang peramal yang dipanggil menyimpulkan bahwa hati sang puteri telah dicuri oleh pemuda yang menyukainya Obatnya hanyalah segera mempertemukan puteri dengan pemuda tersebut atau puteri akan meninggal.

Dewi Matahari segera menyuruh ribuan laba-laba surga memintal benangnya untuk dijadikan tangga ke bumi. Segera saja sebuah tangga yang lembut bagai sutera terjalin dengan indahnya, menggantung dari langit menuju bumi. Kemudian para dayang menghamparkan permadani dari beludru untuk alasnya. Dan dengan dipapah oleh para dayang, sang puteri Matahari mulai menuruni tangga diiringi lambaian tangan dewi Matahari dan dewa Bulan.

Sementara itu katak sudah terlebih dahulu sampai di bumi. Dia bergegas menemui Kimamanauze dan menyuruhnya bersiap-siap menyambut calon pengantinnya di tepi telaga.

Dengan mengenakan pakaiannya yang paling bagus, Kimamanauze berlari ke pinggir telaga. Di sana telah berkumpul para penduduk desa yang terpesona dengan barisan dayang yang turun dari langit. Ketika puteri Matahari bertemu pandang dengan Kimamanauze, tiba-tiba sembuhlah sakitnya.

Akhirnya, pernikahan pun dilangsungkan dengan meriah. Kimamanauze senang karena akhirnya impiannya dapat terwujud berkat bantuan katak yang cerdik. Dan pasangan itu pun hidup bahagia selamanya.

(SELESAI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar